Hampir setiap rumah tangga Indonesia punya kaleng hijau itu di dapur. Ibu-ibu kasih ke anak sebelum sekolah. Warung kopi jual dalam sachet. Orang tua percaya Milo = nutrisi = baik untuk tumbuh kembang.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: Milo itu sebenernya susu, bukan?
Jawabannya: tidak juga. Dan ini penting.
Baca juga: Cek Inspirasi Menu Sarapan Seimbang yang Nggak Cuma Oatmeal
Milo Bukan Susu — Ini Minuman Malt
Coba cek bagian belakang kaleng Milo. Berdasarkan data komposisi resmi produk, urutan bahan utama Milo adalah: malt barley extract, gula, cocoa, dan baru kemudian susu skim bubuk[1]. Artinya, susu ada — tapi bukan bahan utama.
Milo adalah malt beverage yang difortifikasi — bukan susu yang dikasih rasa cokelat. Produk ini pertama kali dikembangkan di Australia pada 1934 oleh Thomas Mayne, seorang kimiawan industri Nestlé, dengan tujuan awal membantu anak-anak mendapatkan cukup nutrisi[2].
Kalau kamu bikin Milo pakai air panas (bukan susu), yang kamu minum pada dasarnya adalah minuman malt bergula dengan kandungan susu yang minimal.
Perbandingan Nutrisi: Milo vs Susu Sapi Asli
Mari kita bandingkan angkanya secara jujur. Per sajian standar Milo (3 sendok makan ~15g, diseduh dengan 200ml air) vs susu sapi full cream 200ml[1] [3]:
| Nutrisi | Milo + Air (200ml) | Susu Sapi (200ml) |
|---|---|---|
| Kalori | ~60 kal | ~120 kal |
| Protein | ~1.5g | ~6.4g |
| Kalsium | ~180mg | ~240mg |
| Gula | ~8-10g | ~9.6g (laktosa alami) |
Proteinnya jauh lebih rendah. Kalsiumnya ada, tapi hasil fortifikasi artifisial — bukan dari susu alami. Kalau tujuannya memberikan nutrisi ke anak, susu sapi biasa jauh lebih padat gizi per kalorinya.
Catatan: Kalau kamu bikin Milo pakai susu (bukan air), nutrisinya naik — tapi itu karena susu-nya, bukan Milo-nya.
Masalah Gula yang Sering Luput dari Perhatian
Satu sajian Milo (3 sendok makan) mengandung sekitar 8–10 gram gula[1].
WHO merekomendasikan asupan free sugars tidak lebih dari 10% total energi harian — dan secara kondisional menyarankan pengurangan hingga di bawah 5%, setara sekitar 25 gram atau 6 sendok teh per hari[4].
Dua gelas Milo (diseduh air) sehari sudah sekitar 16–20 gram gula tambahan — hampir mendekati batas kondisional WHO, sebelum memperhitungkan makanan dan minuman manis lainnya sepanjang hari.
Ini bukan berarti Milo harus dilarang keras dari rumah. Tapi kalau kamu kasih Milo ke anak dua kali sehari dengan keyakinan “ini kan susu, sehat” — ada asumsi yang perlu direvisi.
Lalu Kenapa Milo Terasa Kayak Produk Kesehatan?
Karena marketing-nya sangat efektif — dan ini bukan sindiran, ini fakta yang terdokumentasi.
Pada Desember 2017, New York Times menerbitkan investigasi yang menemukan bahwa Nestlé mendanai Nutrition Society of Malaysia dan memiliki perjanjian tertulis untuk memeriksa studi yang mereka danai sebelum dipublikasikan di jurnal ilmiah[2]. Di antara studi yang diterbitkan adalah satu yang menyimpulkan bahwa anak-anak yang minum minuman malt sarapan cenderung lebih aktif secara fisik.
Kaleng hijau dengan atlet, tagline energi dan prestasi, positioning sebagai “minuman bergizi” — semuanya dirancang untuk membangun asosiasi positif. Fortifikasi vitamin dan mineralnya memang nyata. Tapi fortifikasi bisa ditambahkan ke produk apa saja. Adanya fortifikasi tidak otomatis membuat produk setara dengan whole food.
Jadi, Apakah Milo Berbahaya?
Tidak — kalau kamu tahu posisinya.
Milo adalah minuman malt bergula yang enak, dengan fortifikasi nutrisi, cocok sebagai occasional treat atau variasi minuman. Bukan sebagai pengganti susu, bukan sebagai sumber protein utama, dan bukan minuman yang perlu diminum dua kali sehari atas nama kesehatan.
Kalau kamu atau anakmu suka Milo: nikmati. Tapi sambil tahu apa yang kamu minum.
Kalau tujuannya protein dan kalsium: susu sapi, susu kedelai fortifikasi, atau tempe jauh lebih cost-effective per gram nutrisinya.
Intinya
- Milo adalah minuman malt dengan susu skim bubuk sebagai bahan non-utama — bukan produk susu
- Proteinnya jauh lebih rendah dibanding susu asli
- Gulanya tidak sedikit, terutama untuk anak-anak yang minum rutin
- Fortifikasinya nyata tapi bukan alasan untuk menganggapnya setara susu
- Boleh dinikmati — asal tahu posisinya sebagai minuman, bukan suplemen gizi
Kaleng hijaunya boleh tetap ada di dapur. Yang perlu diupdate adalah ekspektasinya.
Mau tahu berapa kebutuhan kalori harian kamu sebenarnya? Cek Kalkulator TDEE Nutrisantara — gratis, tanpa email.
Referensi
- Open Food Facts. MILO – Nestlé – 400g: Komposisi dan nilai gizi per sajian. https://world.openfoodfacts.org/product/0028000369712/milo-nestle
- Jacobs, Andrew & Richtel, Matt. “In Asia’s Fattest Country, Nutritionists Take Money From Food Giants.” New York Times, 23 Desember 2017. https://www.nytimes.com/2017/12/23/health/obesity-malaysia-nestle.html
- USDA FoodData Central. Whole milk, 3.25% milkfat, with added vitamin D. FDC ID: 746776. https://fdc.nal.usda.gov/food-details/746776/nutrients
- World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. Geneva: WHO; 2015. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549028
Halo, nama gue Kim, salah satu pendiri Nutrisantara. Gue adalah certified nutrition coach (Precision Nutrition Level 1) dan sudah lulus ujian sertifikasi CSCS (Certified Strength and Conditioning Specialist) dari NSCA—salah satu sertifikasi exercise science paling ketat di dunia.
Sepanjang hidup gue, sebagai pecinta olahraga, gue aktif di berbagai cabor karena gue percaya ilmu harus diuji di lapangan. Gue mendalami combat sports sebagai pilar utama, sempat serius dengan olympic weightlifting, sambil tetap mencoba berbagai hal, meski skill pas-pasan, mulai dari surfing, tennis, hingga basket.
Sebagai praktisi Brazilian jiu-jitsu, gue pernah bertanding di tingkat regional (IBJJF) dan memenangkan medali di kompetisi lokal. Di Muay Thai, gue menghabiskan bertahun-tahun latihan di bawah bimbingan David Huerta (Pan American Gold Medalist).
Bukan buat pamer. Tapi karena lo berhak tahu dari mana dasar ilmu yang lo baca di sini.
