Penelitian pada atlet SMA di Amerika Serikat menemukan 78% memiliki setidaknya satu komponen FAT (Hoch et al., 2010). Perlu dicatat, angka ini memang lebih tinggi daripada rata-rata di dari data systematic review dewasa. Intinya, prevalensi female athlete triad pada wanita itu tinggi.
Artinya, kondisi ini bukan kasus langka yang hanya terjadi pada atlet elite — ini adalah masalah kesehatan yang hampir universal namun hampir selalu tidak terdeteksi sampai sudah terlambat.
Baca juga: Latihan Beban Saat Menstruasi, Aman Nggak?
Apa itu Female Athlete Triad — dan mengapa atlet perempuan Indonesia lebih rentan?
Female Athlete Triad adalah sindrom yang dialami atlet wanita yang terdiri dari 3 komponen yang saling berkaitan.
- Defisit energi (Low Energy Availability)
- Gangguan menstruasi
- Penurunan densitas tulang
Konsensus FAT Coalition 2014 (De Souza et al., 2014) mendefinisikan FAT bukan sebagai sebuah spektrum.
Di satu ujung, ada subklinis ringan: sedikit kekurangan energi tanpa gejala yang terlihat.
Di sisi lain, gejala terparahnya dapat berupa amenorrhea (tidak menstruasi selama 3 siklus), osteoporosis, dan gangguan makan yang butuh intervensi medis.
Intervensi paling efektif terjadi di awal spektrum, sebelum kerusakan tulang dan hormonal menjadi permanen.
Di Indonesia, ada faktor tambahan yang tidak pernah dibahas dalam literatur internasional maupun artikel lokal: olahraga berisiko tinggi di sini bukan hanya gymnastics, dance, atau figure skating seperti yang selalu disebutkan di artikel ilmiah barat.
Atlet perempuan Indonesia yang paling rentan adalah mereka yang aktif di senam ritmik (rhythmic gymnastics), pencak silat dengan kategori berat badan, atletik jarak jauh, dan renang — plus satu faktor unik yang hanya relevan untuk populasi ini: puasa Ramadan sambil tetap berlatih intensitas penuh.
Apa itu Low Energy Availability (LEA)? Ini bukan sekedar “kurang makan” lho ya.
Low Energy Availability adalah kondisi di mana energi (kalori) untuk menjaga fungsi dan kesehatan tubuh tidak cukup. Wanita aktif lebih rentan karena kalori sudah digunakan untuk latihan dan olahraga.
Saat kalori kita tidak cukup, tubuh kita panik dan langsung menganggap kita lagi survival mode. Sehingga fungsi-fungsi tubuh banyak yang dimatikan demi penghematan.
Data menunjukan dibawah 30 kilocalories per kg massa bebas lemak (fat-free mass) per harinya (Williams et al., 2017), tubuh mulai mengorbankan fungsi reproduksi dan pembentukan tulang.
Ketika ini terjadi, ada beberapa hal yang terjadi pada hormon kamu:
- Risiko Amenorrhea: Sistem reproduksi dimatikan sementara. Otak mengirim sinyal ke kelenjar pituitari untuk mengurangi produksi Luteinizing Hormone, hormon pemicu ovulasi. Tanpa LH yang cukup, estrogen ikut turun. Hasilnya bisa dari siklus yang mulai nggak teratur, sampai menstruasi berhenti sama sekali.
- Hormon tiroid (T3) turun supaya kamu nggak bakar kalori terlalu banyak saat istirahat. Leptin — hormon yang biasanya bilang “udah kenyang” — juga ikut turun. Dan sebagai gantinya, ghrelin (hormon lapar) melonjak. Makanya atlet yang dalam kondisi LEA sering ngerasa lapar terus-terusan tapi tetap nggak makan cukup karena tekanan lingkungan atau kebiasaan yang sudah terbentuk.
Selain itu, ini yang terjadi pada tulang kamu:
- Tulang juga kena imbasnya. Pembentukan tulang baru melambat (osteoblasts), dan pemecahan tulang lama makin cepat (osteoclasts). Dan ini yang bikin ngeri: kerusakannya bisa permanen. Bukan cuma “nanti balik sendiri kalau udah makan normal.”
Apa yang bikin wanita LEA? Ada empat cara berbeda seseorang bisa berakhir di kondisi ini:
1. Diet performa yang salah kaprah. Kamu niat banget, udah riset, tapi kesimpulannya keliru — “kalau badan lebih ringan, performa pasti naik.” Jadi kamu makan lebih dikit dengan tujuan yang masuk akal tapi eksekusinya justru nyakitin tubuh sendiri.
2. Eating disorder klinis. Ini yang biasanya langsung orang pikirin — anoreksia, bulimia. Butuh penanganan psikiatris dan medis, bukan sekadar “makan yang bener.”
3. Nggak sadar kurang makan. Ini yang paling sering kejadian tapi paling jarang dibahas. Olahraga aerobik yang berat itu malah menekan rasa lapar. Jadi banyak atlet yang udah bakar ribuan kalori tapi nggak ngerasa lapar — dan ya, nggak makan cukup. Makanya atlet endurance sering diajarin: makan berdasarkan jadwal dan disiplin, bukan tunggu lapar.
4. Tekanan sosial dan body image. Bukan soal performa sama sekali. Tapi karena lingkungan dan tekanan sosial. Orang sekitar yang suka komentar soal badan, budaya “makin kurus makin bagus/sehat,” atau tekanan untuk jaga image/bentuk badan tertentu.
Tapi yang nggak kalah penting, dan harus digaris bawahi: LEA bisa terjadi dengan atau tanpa eating disorder.
Atlet yang “makan sehat” tapi overtrain pun bisa mengalami LEA. Jadi jangan ngerasa kamu udah pasti nggak berisiko walaupun kamu nggak punya eating disorder.
Yang bikin ini semua tambah ribet, narrative review Williams et al. 2017 menyimpulkan ada berbagai faktor yang menyebabkan LEA, termasuk genetik.
Faktor risiko LEA yang sering diabaikan di Indonesia:
- Jadwal latihan dua sesi sehari tanpa penyesuaian asupan kalori
- Obsesi clean eating yang tidak disadari membatasi total kalori (lihat: obsesi clean eating yang bisa berubah menjadi masalah klinis)
- Melewatkan makan pagi atau post-workout karena “tidak lapar” setelah latihan pagi intensitas tinggi
- Puasa Ramadan tanpa penyesuaian nutrisi saat sahur dan buka
Bagaimana gangguan menstruasi terjadi — mekanisme lengkapnya?
Defisit energi menekan sekresi LH yang membuat kadar estrogen jatuh. Ini yang menyebabkan menstruasi kamu terganggu. Jargon klinisnya adalah oligomenorrhea kalau mensnya tidak teratur. Tapi kalau udah nggak mens selama 3 siklus, itu namanya amenorrhea.
Apa yang terjadi pada tulang — dan mengapa ini berbahaya untuk atlet remaja?
Penurunan Bone Mineral Density (BMD) terjadi pada spektrum dari osteopenia (secara klinis: BMD di rentang -1 hingga – 2.5 standard deviation dari normal) hingga osteoporosis (−2.5 standard deviation dari normal).
Atlet muda yang mengalami LEA berkepanjangan mungkin tidak pernah mencapai peak bone mass yang seharusnya dicapai di usia 20–25 tahun. Tulang yang tidak terbentuk di usia ini tidak bisa sepenuhnya dikompensasi di kemudian hari.
Studi Raj et al., 2023 dan studi Keen & Drinkwater, 1997 menunjukkan mantan atlet yang pernah mengalami amenorrhea, meski menstruasinya sudah balik normal bertahun-tahun, kepadatan tulang di area lumbar mereka tetap cuma sekitar 84% dari yang seharusnya.
Implikasi praktisnya: latihan beban yang tepat justru bisa memperkuat tulang dan harus menjadi bagian dari protokol kesehatan wanita.
Tes mandiri: 11 Pertanyaan untuk mendeteksi risiko Female Athlete Triad
Sebelas pertanyaan berikut dikembangkan dari kriteria skrining 2025 Female Athlete Triad Coalition Consensus Statement (Williams et al., 2025).
Perlu dicatat, ini bukan pengganti diagnosis klinis ya.
Jawab setiap pertanyaan dengan Ya atau Tidak:
- Apakah menstruasimu datang kurang dari 9 kali dalam 12 bulan terakhir, atau sudah berhenti selama 3 bulan atau lebih?
- Apakah kamu pernah mengalami cedera tulang stres (stress fracture) yang didiagnosis dokter?
- Apakah kamu sering merasa sangat lelah meski sudah tidur 7–9 jam?
- Apakah kamu secara aktif membatasi jenis atau jumlah makanan karena takut “makan sembarangan” atau “tidak bersih”?
- Apakah pelatih, teman setim, atau lingkunganmu sering mengomentari berat badanmu atau mendorongmu untuk lebih kurus?
- Apakah kamu berpuasa Ramadan sambil tetap berlatih dengan intensitas tinggi, tanpa menyesuaikan asupan nutrisi saat sahur dan buka?
- Apakah performamu mengalami penurunan yang tidak bisa dijelaskan selama 4 minggu atau lebih?
- Apakah kamu sering melewatkan makan sebelum atau setelah sesi latihan karena tidak sempat, tidak lapar, atau sengaja menghindari?
- Apakah kamu aktif di olahraga yang menekankan penampilan tubuh, berat badan tertentu, atau kategori berat (senam, silat, renang, lari jarak jauh)?
- Apakah dokter atau hasil tes pernah menunjukkan densitas tulangmu di bawah normal untuk usiamu?
- Apakah kamu sering merasa tidak puas dengan tubuhmu, atau merasa perlu lebih kurus meski performamu tidak bermasalah?
Interpretasi skor:
| Jumlah “Ya” | Tingkat Risiko | Langkah Selanjutnya |
|---|---|---|
| 0–2 | 🟢 Risiko rendah | Jaga pola makan, pantau siklus menstruasi rutin |
| 3–5 | 🟡 Risiko sedang | Konsultasi ahli gizi |
| 6 atau lebih | 🔴 Risiko tinggi | Segera konsultasi dokter olahraga (SpKO) |
Strategi recovery realistis untuk atlet Indonesia (tanpa biaya besar)
Recovery dari female athlete triad bertumpu pada tiga pilar: perbaikan energy availability, pemulihan siklus menstruasi, dan perlindungan tulang.
Tidak memerlukan suplemen mahal atau dietitian berbayar sebagai syarat awal. Dengan pilihan makanan warung yang tepat, target nutrisi minimum bisa dicapai — asalkan ada kesadaran dan strategi yang benar.
Urutan prioritas berdasarkan panduan De Souza et al. 2014:
- Perbaikan energy availability terlebih dahulu — tanpa ini, menstruasi tidak akan kembali dan tulang tidak bisa diperbaiki
- Baru evaluasi volume latihan — bukan langsung stop latihan, tapi sesuaikan agar EA cukup
- Lalu baru pikirkan suplementasi tulang – suplemen kalsium/vitamin D hanya efektif jika EA sudah di level aman
Kapan harus ke dokter olahraga?
Segera ke dokter olahraga (SpKO) kalau kamu ngalamin salah satu dari ini: menstruasi nggak balik dalam 3 bulan setelah pola makan diperbaiki, ada riwayat stress fracture yang sudah didiagnosis, skor tes mandiri di atas 6, atau performa terus turun lebih dari 4 minggu tanpa alasan yang jelas.
Ini yang akan dilakukan SpKO:
- Anamnesis nutrisi dan latihan. Dokter akan nanya riwayat pola makan, volume latihan, dan siklus menstruasi 12 bulan terakhir. Bukan interogasi. Ini fondasi diagnosisnya.
- Pemeriksaan hormonal. Kadar estrogen, FSH, LH dicek untuk konfirmasi apakah ini amenorrhea hipotalamik fungsional atau ada penyebab lain.
- DXA scan. Mengukur kepadatan tulang di lumbar dan femur. Yang penting: dokter yang paham olahraga akan pakai Z-score (standar usia kamu), bukan cuma T-score yang biasanya dipakai untuk pasien menopause.
- Return-to-play assessment. Berdasarkan 2025 FAT Coalition Clinical Guidelines, protokol sekarang nggak cuma lihat BMD. Riwayat bone stress injury juga masuk pertimbangan.
FAQs Seputar Female Athlete Triad
Apa itu Female Athlete Triad?
Bayangin tiga domino yang berdiri berurutan. Satu jatuh, yang lain ikut.
Female Athlete Triad adalah sindrom tiga komponen yang saling terkait: defisit energi, gangguan menstruasi, dan penurunan kepadatan tulang.
Ketiganya nggak harus muncul sekaligus. Satu komponen saja sudah cukup untuk mulai merusak yang lain.
Apakah kehilangan tulang karena female athlete triad bisa dipulihkan sepenuhnya?
Sebagian ya. Sebagian tidak.
Pemulihan terjadi saat asupan energi diperbaiki dan menstruasi kembali normal. Tapi beberapa penelitian menunjukkan kepadatan tulang mungkin nggak balik ke level penuh, terutama kalau female athlete triad terjadi di usia remaja, masa kritis pembentukan tulang.
Ini alasan utama kenapa deteksi dini jauh lebih penting daripada treatment belakangan.
Atlet yang puasa Ramadan — apa berisiko FAT juga?
Ya. Terutama kalau intensitas latihan nggak disesuaikan.
Asupan kalori atlet perempuan turun signifikan selama Ramadan. Beban latihan sering nggak ikut turun. Hasilnya: defisit energi yang secara fisiologis identik dengan pemicu FAT.
Bukan berarti harus berhenti latihan. Strategi nutrisi yang tepat saat sahur dan buka bisa meminimalkan risiko ini — tapi perlu direncanakan, bukan diasumsikan aman begitu saja.
Apakah FAT menyebabkan kemandulan permanen?
Pada mayoritas kasus, tidak.
Amenorrhea akibat FAT umumnya reversibel setelah asupan energi diperbaiki. Menstruasi dan ovulasi biasanya kembali dalam 3–6 bulan.
Tapi dibiarkan lama, risikonya naik. Kalau menstruasi nggak kembali dalam 3 bulan setelah pola makan diperbaiki — itu sinyal untuk ke dokter, bukan ditunggu lagi.
Referensi
- Barrack MT et al. “2025 Update to the Female Athlete Triad Coalition Consensus Statement Part 1.” Sports Med. 2025. PubMed 41474493
- De Souza MJ et al. “2025 Update to the Female Athlete Triad Coalition Consensus Statement Part 2.” Sports Med. 2025. PubMed 41474492
- De Souza MJ et al. “2014 Female Athlete Triad Coalition Consensus Statement.” BJSM. 2014. PubMed 24463911
- Barrack MT, Gibbs JC, De Souza MJ et al. “Higher Incidence of Bone Stress Injuries with Increasing FAT Risk Factors.” Am J Sports Med. 2014. PubMed 24567250
- Gibbs JC, Williams NI, De Souza MJ. “Prevalence of Frequent Health Problems in Exercising Women.” J Womens Health. 2013. PMC5657497
- Keen AD, Drinkwater BL. “Irreversible bone loss in former amenorrheic athletes.” Osteoporos Int. 1997. PubMed 9373563
- Mountjoy M et al. “IOC Consensus Statement: Beyond the Female Athlete Triad — RED-S.” BJSM. 2014. PubMed 24620037
- Mountjoy M et al. “2023 IOC Consensus Statement on Relative Energy Deficiency in Sport (REDs).” BJSM. 2023. PubMed 37752011
- Raj MA, Creech JA, Rogol AD. “Female Athlete Triad.” StatPearls. 2023. NBK430787
- Williams NI, Statuta SM, Austin A. Female Athlete Triad: Future Directions for Energy Availability and Eating Disorder Research and Practice. Clin Sports Med. 2017 Oct;36(4):671-686. doi: 10.1016/j.csm.2017.05.003. Epub 2017 Jul 10. PMID: 28886821; PMCID: PMC5657497
Halo, nama gue Kim, salah satu pendiri Nutrisantara. Gue adalah certified nutrition coach (Precision Nutrition Level 1) dan sudah lulus ujian sertifikasi CSCS (Certified Strength and Conditioning Specialist) dari NSCA—salah satu sertifikasi exercise science paling ketat di dunia.
Sepanjang hidup gue, sebagai pecinta olahraga, gue aktif di berbagai cabor karena gue percaya ilmu harus diuji di lapangan. Gue mendalami combat sports sebagai pilar utama, sempat serius dengan olympic weightlifting, sambil tetap mencoba berbagai hal, meski skill pas-pasan, mulai dari surfing, tennis, hingga basket.
