Biohacking: Sekedar Tren Mahal atau Manfaat Nyata?

Oct 8, 2025

Beberapa waktu lalu, gue sempet mampir ke sebuah klinik biohacking di Jakarta. Kebetulan, klinik ini punya teman gym gue. Dan jujur aja, gue agak kaget.

Walaupun pricelist-nya fantastis, bisnisnya ternyata lancar.

Dengan harga segitu tinggi, worth it gak sih? Padahal ada juga opsi yang lebih terjangkau seperti tes DNA diet olahraga untuk optimasi kesehatan personal.

Bullshit atau beneran? Mari kita bahas topik menarik ini, mulai dari teknologi sederhana seperti testing genetik untuk fitness hingga treatment yang lebih kompleks.

Apa sih, biohacking itu?

Biohacking bisa didefinisikan sebagai tindakan apapun yang dilakukan untuk mengoptimisasi tubuh manusia. Layaknya seorang programmer yang nge-debug sistem biologis mereka sendiri.

Tujuannya biar tidur lebih nyenyak, otak lebih encer, energi lebih stabil, sampai hubungan intim yang lebih memuaskan. Intinya, hidup lo jadi lebih seger, enak, optimal.

Tapi penting juga diinget kalau biohacking gak selalu berarti produk suntikan dan IV drip di klinik mahal.

Dalam arti luas, biohacking bisa sesederhana nyobain suplemen tertentu dan ngeliat efeknya ke tubuh lo sendiri, atau bahkan hal sederhana kayak nambah sejumput garam dan air di pagi hari biar hidrasi pagi hari setelah bangun tidur jadi lebih optimal.

Intinya, lo lagi “nge-hack” tubuh lo buat nemuin apa yang bikin performa, energi, dan mood lo lebih baik dan teroptimisasi.

Jadi, spektrumnya luas ya. Dari versi sederhana (atur tidur, cahaya, suplementasi, nutrisi, sauna, cryotherapy chamber) sampai yang high-end dan mahal (IV drip, DNA test, injeksi peptide).

Tapi pada intinya, biohacking adalah proses lo mencoba suplementasi atau regimen pada hidup lo dengan satu tujuan, yaitu: “Gimana caranya gue bisa ngerasa lebih baik dari kemarin?”

Gerakan ini booming di Amerika sejak pertengahan 2000-an, pas tes DNA jadi makin terjangkau secara harga dan lebih aksesibel buat masyarakat luas. 

Dari situ lahirlah cult figure seperti Dave Asprey (bulletproof coffee, yap, kopi campur mentega itu, gue pernah ketipu juga nih). 

Dan, kalo lo sering baca artikel Nutrisantara, besar kemungkinan lo udah familier dengan nama Andrew Huberman yang dewasa ini jadi influencer dunia biohacking yang paling populer. Walau banyak insight menarik dari kontennya, beberapa klaimnya masih menuai perdebatan di kalangan ilmuwan.

Biohacking emang menarik dan adiktif banget. Lo ngerasa kayak bisa nge-upgrade tubuh sendiri, dan semuanya bisa dilandasin oleh data ilmiah. Tapi di balik itu juga banyak scam dan hoax jualan suplemen dan barang ini itu tanpa data yang jelas. Jadi penting buat tetep kritis: gak semua yang dibungkus kata “optimisasi tubuh” berarti terbukti efektif.

Dan kayak kebanyakan tren “keren” dari luar negeri, Indonesia gak mau ketinggalan.

Di Indonesia sendiri, klinik-klinik biohacking udah mulai menjamur di Jakarta dan Bali.

Mulai dari IV drip, injeksi peptide, sampai DNA test — semuanya dijual dengan janji: “bikin lo versi terbaik dari diri lo.” Beberapa produk mereka juga dibungkus sebagai produk anti-aging.

Pengalaman Pribadi Gue dalam Biohacking

Gue gak sepenuhnya skeptis sama biohacking. Tanpa sadar, gue udah nge-biohack diri gue sendiri. Hanya saja, dengan versi low budget.

Gue pernah tes DNA dan riset soal suplementasi yang cocok buat gue berdasarkan laporan DNA gue. Gue juga pasang blue light filter, rajin jemur matahari pagi, meditasi, dan jaga sleep hygiene.

Lucunya, hal-hal basic kayak tidur cukup dan kena sinar matahari pagi sekarang dikategorikan “biohacking.” Gue jadi mikir, se-melenceng itu kah kehidupan modern dari basic practices yang membuat tubuh kita sehat sampai hal yang lumrah dilakukan oleh nenek moyang kita ini jadi dianggap biohacking?

Tapi yang menarik, makin gue dalami dunia biohacking, gue makin sadar, ternyata versi “biohacking low-budget” kayak gue ini cuma sebagian kecil dari dunia yang jauh lebih besar (dan mahal). 

Karena di sisi lain, muncul tren baru orang rela keluarin jutaan rupiah buat ngejar hasil yang sama, tapi lewat jalur instan dan modern: klinik-klinik biohacking yang makin menjamur di kota-kota besar. 

Mereka menawarkan berbagai produk cutting-edge di dunia biohacking, dengan berbagai janji untuk menjadikan lo “manusia super”.

Kenapa Masih Banyak yang mau, walaupun mahal?

“Klien gue kebanyakan atlet dan CEO,” kata temen gue yang punya klinik.

“Kalau atlet, ya mereka nyari marginal gain buat recovery dan performa. Tapi kalau eksekutif muda, mereka pengen bisa kerja terus tanpa capek.”

Gila kan? Biohacking bukan cuma soal sehat, tapi soal menghilangkan batas-batas kemampuan kerja manusia. Seakan lupa kalau rasa capek itu sebetulnya sinyal dari tubuh kita untuk nyuruh kita istirahat. Gak cuma secara fisik, tapi juga secara mental.

Yah, gue rasa wajar juga sih. Semua orang pengen ngerasa lebih fit dan produktif. Dan kalau emang ada budgetnya, kenapa enggak? 

Di Bali, banyak WNA yang rela bayar mahal. Di Jakarta, makin banyak eksekutif yang mikir, “Kalau ini bisa bikin gue kerja lebih optimal, kenapa enggak?”

Tapi serius, beberapa treatment di sana harganya gila-gilaan. Bisa beli motor.

Salah satu produk populer: IV drip mineral yang isinya magnesium dan potassium.

Dokternya sendiri bilang: kalau pola makan lo udah sehat, efeknya gak bakal signifikan.

Semua produk di klinik-klinik ini jadi kayak jalan pintas buat orang yang gak mau (atau gak sanggup) ngelakuin hal-hal dasar: tidur cukup, makan bener, dan gerak secara teratur. 

Gimana Bukti Ilmiahnya?

Gue pun penasaran dan nyelam ke data ilmiah produk-produk klinik biohacking.

Di Jakarta, yang paling sering gue lihat: NAD+ drip (biasa marketing anglenya adalah untuk anti-aging), fat loss (semacam Ozempic), peptide (Semax, Selank), dan injeksi hormon pertumbuhan.

NAD+ IV Drip untuk Anti-Aging

Apa basisnya?

Penelitian (Conlon, 2021) menunjukan bahwa kadar NAD+ (nicotinamide adenine dinucleotide) menurun seiring bertambahnya usia. 

NAD+ adalah sejenis co-enzyme yang memiliki peranan penting dalam fungsi metabolisme kita. Contoh:

  • Memperbaiki kerusakan sel dan DNA dari polusi, stress, UV, dll
  • Membantu produksi energi (ATP) di mitokondria 
  • Regulasi peradangan tubuh lewat berbagai mekanisme aktivasi enzim

Apa kata data?

Menariknya, penelitian pada hewan saat ini menunjukan hasil yang menjanjikan, seperti membantu regenerasi organ, mengurangi tanda-tanda penuaan di tingkat seluler, dan memperbaiki fungsi mitokondria. 

Tapi, sayangnya, data dari penelitian manusia masih sangat minim. 

Beberapa studi manusia yang dikutip di penelitian di atas itu memang nunjukin hasil positif. Tapi kebanyakan di orang yang udah punya masalah metabolik atau jantung.

Misalnya, NAD⁺ bantu ningkatin fungsi mitokondria dan sirkulasi darah pada pasien dengan gangguan kardiovaskular. Tapi di orang sehat, efeknya cenderung datar. Mungkin karena kadar NAD⁺ mereka udah normal dari awal.

💉 Pengalaman pribadi gue

Gue sendiri udah nyobain NAD+ IV, karena penasaran.

Efek yang gue rasain:

  • Gue tidur lebih gampang malamnya.
  • Tubuh berasa lebih rileks dan tenang setelahnya.
  • Tapi ini bikin gue jadi lemes saat olahraga, terutama 1-2 hari pertama setelah IV drip.

Tapi itu aja.

Apakah itu placebo? Bisa jadi.

Apakah gue jadi lebih muda, kulit glowing, atau energi meledak-ledak? Nggak. Sama aja.

Nggak ada perubahan di kulit, mood, atau performa gym.

Jadi ya… kalau lo udah tidur cukup, makan bener, dan rutin olahraga, NAD+ IV ini nggak bakal bikin perubahan signifikan.

Efeknya mungkin ada, tapi halus banget. Sampe gak kerasa.

Ozempic/Wegovy (Semaglutide) untuk Fat Loss

Apa basisnya?

Semaglutide bekerja seperti hormon GLP-1, dan salah satu mekanismenya adalah memperlambat pengosongan lambung (gastric emptying). Artinya, makanan lebih lama ‘numpuk’ di perut, sehingga lo merasa kenyang lebih lama.

Hanya saja, efek perlambatan pencernaan ini lebih terasa di fase awal penggunaan, dan seiring waktu tubuh kita jadi beradaptasi dan menyesuaikan. 

Perlu dicatat, ini hanyalah penjelasan super sederhana mengenai salah satu cara semaglutide bekerja. Pada kenyataannya, banyak mekanisme lain yang ikut berperan dalam mempengaruhi nafsu makan.

Apa kata data?

Obat fat loss yang satu ini sudah terbukti sangat efektif untuk penurunan berat badan, kalau dipakai terus-menerus.

Semaglutide juga terbukti nurunin risiko penyakit kardiovaskular pada pasien dengan obesitas dan pasien dengan diabetes (Lincoff et al., 2023).

Begitu penggunaan dihentikan, berat badan umumnya akan kembali naik kecuali disertai perubahan gaya hidup yang konsisten.

Efek samping yang paling sering adalah mual, perut terasa penuh, dan konstipasi ringan.

Penurunan berat badan yang cepat juga dapat meningkatkan risiko pembentukan batu empedu.

Selain itu, semaglutide tidak dianjurkan bagi mereka yang memiliki riwayat medullary thyroid carcinoma (MTC) atau sindrom genetik MEN2 (Multiple Endocrine Neoplasia tipe 2).

Opini Nusantara: penggunaan semaglutide sebetulnya masuk akal buat orang yang obesitas dan sudah mencoba segala cara untuk menurunkan berat badan, tapi gagal terus. Tapi, tetap butuh harus dibarengin dengan penyesuaian kebiasaan makan (eating habits) yang sehat supaya berat badannya bisa dijaga.

Peptide seperti Semax dan Selank

Nah, ini dua produk yang paling menarik bagi gue: Semax dan Selank.

Dua-duanya tergolong sebagai peptide, alias potongan kecil dari protein sintetis yang dibuat di lab. Keduanya awalnya dikembangkan di Rusia.

Katanya, peptida ini bisa bantu fokus, kurangi stres, dan bikin otak lebih tajam. Seperti tokoh Bradley Cooper di film Limitless.

Kedengarannya keren banget, tapi… mari kita lihat kenyataannya.

🧠 Semax: “nootropic” Rusia

Fungsi awal Semax adalah untuk membantu recovery otak pasien stroke di Rusia (Gusev et al., 2018).

Beberapa penelitian kecil (Dmitrieva et al., 2009) di Rusia menunjukan bahwa Semax bisa bantu fokus dan memori jangka pendek, terutama pada orang yang kurang tidur atau kerja shift panjang.

Ada juga bukti (Dolotov et al., 2006) di hewan bahwa Semax bisa bantu melindungi otak dari stres dan penuaan, dan mungkin meningkatkan zat BDNF (pada hewan), hormon penting buat kesehatan otak.

Sayangnya, semua studi besar yang membuktikan efeknya ke manusia sehat belum ada.

Yang ada baru penelitian kecil, dan kebanyakan dari Rusia aja. Jadi walau teorinya keren, datanya masih tipis banget.

😌 Selank: “anti-stres” 

Selank sering dipromosikan sebagai obat anti-stres tanpa efek samping.

Di penelitian tikus (Kasian et al., 2017), Selank memang bisa memperkuat efek diazepam (semacam obat penenang) dalam kondisi stres kronis ringan.

Studi kecil di Rusia (Medvedev et al., 2014) menunjukkan bahwa pada pasien gangguan kecemasan, Selank dapat memberikan manfaat ansiolitik (menenangkan).

Tapi sama kayak Semax, semua datanya masih terbatas, kecil skalanya, dan banyak belum diterjemahkan ke bahasa Inggris (jadi susah diverifikasi).

Kita belum tahu pasti efek jangka panjangnya, dosis aman buat orang sehat, dan apakah benar bisa ada manfaatnya untuk fungsi otak.

Produk injeksi Semax Selank dibanderol di harga sekitar 8 jutaan di klinik-klinik. Udah bisa beli tiket PP Jakarta-Tokyo ya.

Alternatifnya?

Pengen ngerasain benefit dari Semax Selank secara gratis? Bisa.

Sudah banyak penelitian (Goyal et al., 2014, Zhang et al., 2021) yang menunjukan bahwa meditasi mindfulness yang dilakukan secara rutin bisa memberikan efek yang lebih kuat daripada yang dijanjikan kedua peptida ini. Asalkan dilakukan secara rutin, konsisten, dalam jangka panjang ya. 

IV vitamin/mineral drip

Efektif buat pasien yang emang defisien, tapi gak signifikan kalau lo udah makan seimbang.

Jadi ya, untuk beberapa produk ini, memang ada yang beneran ada efeknya, walaupun marginal.

Balik lagi yuk, ke pondasi

Kalau lo udah jaga pola makan, tidur, dan olahraga, efek biohacking mahal kayak NAD+ atau peptide gak bakal signifikan. Dan itu hal bagus. Artinya, lo udah nge-hack tubuh lo sendiri lewat hal-hal dasar yang sebenernya gratis.

Karena sejatinya, biohacking gak harus berarti treatment dengan harga jutaan di klinik keren. Bisa sesederhana nyoba suplemen baru, atur jam tidur biar lebih konsisten, atau jemur matahari tiap pagi. Eksperimen kecil kayak gitu justru lebih sustainable, dan hasilnya nyata.

Jadi inget, biohacking itu fine-tuning, bukan perbaikan total. Kalau pondasi lo masih berantakan, alat atau suntikan semahal apapun gak bakal jadi solusi ajaib.

Kadang, biohacking terbaik justru bukan yang mahal, tapi yang lo lakuin tiap hari: tidur cukup, makan bener, olahraga rutin, dapet paparan sinar matahari yang cukup.

Aplikasi AI Coach Nutrisantara masih di dapur. Mau nyicipin duluan?

Masih dalam tahap uji coba. Daftar di sini kalau mau jadi yang pertama nyobain.