Fat burner adalah salah satu suplemen fitness yang paling populer dan sering dicari dewasa ini.
Mungkin karena banyak orang yang menaruh harapan bahwa suplemen fat burner bisa membantu mereka untuk menurunkan berat badan secara instan tanpa harus melakukan hal mendasar yang membutuhkan kedisiplinan seperti berolahraga dan mengatur pola makan yang sehat.
Bila Anda salah satunya, ada baiknya Anda membaca artikel ini sebelum menggunakan fat burner.
Benarkah fat burner, seperti namanya, betul-betul efektif dalam membakar lemak? Bagaimana caranya agar fat burner yang kita konsumsi benar-benar efektif untuk membakar lemak?
Mari kita kupas tuntas di artikel ini. Sebelumnya, mari kita mulai dengan memahami apa itu fat burner.
Apa Itu Fat Burner?
Fat burner adalah suplemen yang diklaim dapat membantu pembakaran lemak dengan meningkatkan metabolisme, mengurangi rasa lapar, atau meningkatkan pengeluaran energi.
Secara umum, fat burner yang populer di pasaran dapat dibagi menjadi dua kategori:
- Fat Burner Berbasis Stimulan (Thermogenic Fat Burner): Fat burner berbasis stimulan mengandung zat seperti kafein, yohimbine, atau efedrin untuk meningkatkan energi dan metabolisme. Contoh yang cukup populer di Indonesia adalah Cellucor SuperHD Fat Burner.
- Fat Burner Non-Stimulan: Mengandung bahan seperti CLA (Conjugated Linoleic Acid) atau L-carnitine yang membantu tubuh mengoptimalkan pembakaran lemak tanpa efek stimulasi.
Cara Kerja Fat Burner
Cara Kerja Thermogenic Fat Burner (Fat Burner Berbasis Stimulan)
Mekanisme “pembakaran lemak” pada fat burner berbasis stimulan atau thermogenic fat burner bekerja dengan 2 cara. Yang pertama, efek thermogenic. Yang kedua, pemicuan lipolisis.
Stimulan seperti kafein yang terdapat pada suplemen fat burner meningkatkan hormon adrenalin (epinefrin) dalam tubuh kita.
Meningkatnya hormon adrenalin dalam tubuh dapat meningkatkan suhu tubuh yang akhirnya meningkatkan basal metabolic rate tubuh kita. Inilah yang dinamakan efek “thermogenic” fat burner.
Baca juga: Apa itu Basal Metabolic Rate dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Selain itu, adrenalin dapat meningkatkan metabolisme tubuh dalam jangka waktu yang pendek dengan cara memicu proses lipolisis (konversi lemak menjadi asam lemak dan gliserol).
Asam lemak dan gliserol ini kemudian akan digunakan oleh tubuh kita sebagai energi.
Proses lipolisis memecah lemak tubuh (dalam bentuk trigliserida) menjadi asam lemak dan gliserol yang kemudian diedarkan di darah kita.
Asam lemak ini kemudian akan mengalami proses beta-oksidasi dalam mitokondria untuk memproduksi ATP (bahan bakar energi tubuh kita), sedangkan gliserol dikonversikan menjadi glukosa melalui proses glukoneogenesis.
Namun, bila asam lemak di dalam darah kita tidak digunakan sebagai energi (misalnya, setelah mengonsumsi fat burner Anda tidak berolahraga keras dan hanya tidur-tiduran), maka gliserol dan asam lemak di darah akan dikonversikan kembali menjadi trigliserida alias lemak badan.
Cara Kerja Conjugated Linoleic Acid Sebagai Fat Burner Non-Stimulan
Salah satu jenis suplemen fat burner non-stimulan yang paling sering dicari di Indonesia adalah Conjugated Linoleic Acid (CLA). CLA adalah asam lemak yang ditemukan dalam daging sapi dan produk susu.
Efek “fat burning” dari CLA bekerja dengan 2 mekanisme.
Pertama, CLA dapat membantu mendorong aktivitas hormone-sensitive lipase (HSL), enzim yang berfungsi untuk proses lipolisis, yaitu memecah lemak tubuh kita (trigliserida) menjadi asam lemak dan gliserol.
Kedua, CLA dapat membantu menekan aktivitas lipoprotein lipase (LPL), enzim yang berfungsi untuk menyimpan asam lemak menjadi lemak tubuh.
Asam lemak yang beredar pada darah kita kemudian akan digunakan sebagai energi melalui proses beta-oksidasi, sedangkan gliserol dapat dikonversikan menjadi glukosa (energi untuk tubuh).
Namun, sama halnya seperti yang sudah kami bahas sebelumnya, bila energi ini tidak digunakan, maka asam lemak dan gliserol akan dikonversikan kembali menjadi lemak tubuh (dalam bentuk trigliserida).
Cara Kerja L-Carnitine Sebagai Fat Burner Non-Stimulan
Salah satu suplemen fat burner yang juga cukup populer di pasaran adalah L-carnitine.
L-Carnitine adalah senyawa yang membantu transportasi lemak ke mitokondria, di mana lemak akan digunakan sebagai sumber energi.
Setelah proses lipolisis, lemak tubuh kita (trigliserida) dipecahkan menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak ini kemudian akan dikonversikan menjadi ATP melalui proses yang dinamakan beta-oksidasi.
L-carnitine adalah senyawa yang membantu transportasi asam lemak masuk ke mitokondria kita. Efisiensi dalam proses pembuatan ATP ini lah yang dapat membantu stamina kita saat berolahraga.
Namun, efek suplementasi L-carnitine sangat minim. Efek paling signifikan biasanya dialami oleh atlet atau pada orang yang defisiensi L-carnitine.
Efek Samping Fat Burner
Fat Burner Berbasis Stimulan
Efek samping fat burner berbasis stimulan antara lain:
- Meningkatkan tekanan darah dan risiko gangguan jantung
- Menyebabkan kecemasan, insomnia, dan peningkatan nafsu makan setelah efeknya hilang.
Fat Burner Non-Stimulan
Fat-burner non-stimulan memang dianggap lebih aman daripada fat burner berbasis stimulan, namun ada beberapa efek samping yang perlu Anda catat:
- Gangguan pencernaan seperti diare, mual
- Rasa letih
- Pusing
CLA juga harus dihindari oleh pengidap diabetes.
Selain itu, penggunaan fat burner dengan konsumsi kalori restriktif seperti yo-yo dieting akan berdampak negatif pada regulasi hormon tubuh.
Keuntungan Fat Burner
✔️ Bisa meningkatkan energi dan pembakaran lemak saat dikombinasikan dengan pola makan dan latihan yang benar.
✔️ Fat burner non-stimulan seperti L-carnitine dapat meningkatkan stamina saat berolahraga.
Keburukan Fat Burner
❌ Tidak efektif jika hanya mengandalkan suplemen tanpa pola makan dan olahraga yang baik.
❌ Ketergantungan pada fat burner bisa menyebabkan gangguan hormon dan metabolisme.
Apakah Fat Burner Efektif?
Dari semua bahasan cara kerja fat burner berbasis stimulan maupun non-stimulan di atas, bisa kita simpulkan bahwa suplemen fat burner hanya akan efektif bila disandingkan dengan olahraga yang teratur dan konsisten serta pola makan yang sehat.
Fat burner berbasis stimulan lebih efektif daripada fat burner berbasis non-stimulan, tetapi dengan efek samping yang lebih berbahaya.
Sedangkan fat burner berbasis non-stimulan seperti CLA pun efeknya sebetulnya tidak terlalu signifikan. Menurut penelitian efek CLA pada wanita menopause ini, CLA dapat menurunkan lemak tubuh sebesar 7% relatif dengan kelompok yang tidak menggunakan CLA – dengan kata lain, bedanya hanya 700 gram lemak.
Gunakan Fat Burner hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai solusi utama.
Olahraga, defisit kalori, dan pola makan yang sehat masih menjadi cara paling baik untuk membakar lemak.
Bila Anda telah melakukan semua ini tetapi tetap tidak mengalami penurunan lemak badan, barulah Anda pantas untuk menggunakan fat burner. Ada baiknya pun Anda konsultasikan dengan dokter Anda sebelum menggunakan fat burner, karena banyaknya efek samping dari suplemen ini.
Halo, nama gue Kim, salah satu pendiri Nutrisantara. Gue adalah certified nutrition coach (Precision Nutrition Level 1) dan sudah lulus ujian sertifikasi CSCS (Certified Strength and Conditioning Specialist) dari NSCA—salah satu sertifikasi exercise science paling ketat di dunia.
Sepanjang hidup gue, sebagai pecinta olahraga, gue aktif di berbagai cabor karena gue percaya ilmu harus diuji di lapangan. Gue mendalami combat sports sebagai pilar utama, sempat serius dengan olympic weightlifting, sambil tetap mencoba berbagai hal, meski skill pas-pasan, mulai dari surfing, tennis, hingga basket.
