Panduan Latihan Cardio untuk Pemula

Jul 1, 2025

Latihan aerobik — atau yang sering disebut cardio — bukan cuma buat pelari maraton atau atlet profesional. Buat kamu yang baru mulai aktif bergerak, latihan ini adalah fondasi penting untuk jantung yang sehat, napas yang nggak gampang habis, dan stamina yang makin kuat dari minggu ke minggu.

Di artikel ini, kamu akan belajar kenapa latihan aerobik itu penting, gimana cara mulainya dengan benar, dan jenis-jenis latihan yang cocok buat pemula tanpa harus langsung ngos-ngosan.

Apa Itu Latihan Aerobik? 

Latihan cardio, atau latihan aerobik, adalah aktivitas fisik yang meningkatkan detak jantung dan pernapasan. 

Tujuannya utamanya untuk meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru, serta membakar kalori, walau kalori yang dibakar tidak seberapa untuk effort yang dikeluarkan. 

Jenis-jenis cardio meliputi lari, bersepeda, jalan cepat, renang, dan HIIT. Berbeda dengan angkat beban yang fokus pada kekuatan otot, cardio lebih menekankan pada daya tahan dan kesehatan sistem peredaran darah.

Contoh latihan aerobik klasik:

  • Jalan cepat
  • Lari santai (jogging)
  • Bersepeda
  • Renang
  • Zumba

Manfaat Latihan Cardio

Meningkatkan VO2 max

VO₂ max adalah metrik yang dapat menggambarkan seberapa efisien tubuh kamu menyerap dan menggunakan oksigen saat berolahraga. Semakin tinggi VO₂ max kamu, semakin kuat dan tahan lama performa aerobikmu—baik itu lari, bersepeda, atau sekadar naik tangga.

Latihan aerobik yang konsisten (terutama tempo run dan interval) bisa bantu meningkatkan angka ini secara bertahap.

👉 Mau tau lebih lanjut? Pelajari dulu apa itu VO₂ max dan kenapa penting buat atlet amatiran kayak kamu

Kesehatan Jantung

Latihan cardio bisa meningkatkan cardiac output jantung alias kemampuan jantung buat memompa darah ke seluruh tubuh dengan lebih efisien.

Resting heart rate kamu bakal lebih rendah, tanda jantung sehat dan nggak kerja rodi terus-menerus. Heart rate variability meningkat karena latihan cardio dapat membantu regulasi sistem parasimpatetik kita (sistem yang bertanggung jawab untuk rest-and-digest).

Densitas Kapiler Darah Meningkat

Latihan cardio bikin sirkulasi jadi lebih efisien, karena jumlah kapiler (pembuluh darah kecil) di otot meningkat. Artinya, supply nutrisi, oksigen, dan pembuangan karbon dioksida dari sel-sel otot jadi makin lancar. Hasilnya, tubuh lebih tahan banting saat latihan atau aktivitas fisik lainnya.

Kesehatan Otak

Siapa yang di sini suka lari? Siapa yang ngerasa mood jadi lebih oke setelah lari? Atau minimal ngerasa otak nggak se-berat sebelumnya? 

Ternyata, cardio bantu produksi BDNF (Brain-derived neurotrophic factor), semacam “pupuk ajaib” buat otak kita. Fungsinya salah satunya untuk ningkatin memori, bikin belajar lebih cepat nyantol, dan bikin mood lebih stabil. 

Bisa dibilang, cardio itu semacam booster alami buat kesehatan mental kita.

Meningkatkan Kualitas Tidur dan Membantu Stress

Pernah denger istilah yang namanya “runner’s high”? Ternyata fenomena ini terjadi karena endorfin yang dirilis tubuh setelah olahraga aerobik. Endorfin naik, stres turun, tidur nyenyak.

Ditambah lagi, heart rate variability (HRV) kamu bakal meningkat, karena latihan cardio membantu regulasi sistem parasimpatetik, yaitu sistem yang bikin badan kamu bisa masuk ke mode rest-and-digest. Jadi selain bikin jantung makin kuat, cardio juga bantu tubuh kamu lebih gampang relax dan bantu dengan pemulihan.

Menjaga Kesehatan Tulang Rawan (Cartilage)

Gerak apapun itu penting buat kesehatan cartilage kita. Kenapa? Karena cartilage nggak punya kapiler darah. Nutrisi dan oksigen cuma bisa masuk lewat synovial fluid, dan cairan ini baru ngalir kalau kita gerak. Jadi makin banyak gerak, makin sehat tulang rawan kita. Tapi jujur aja, kalo ngomongin soal kesehatan tulang, latihan angkat beban jauh lebih bermanfaat daripada latihan cardio.

Baca juga: Manfaat Angkat Beban untuk Kesehatan Tulang

Cardio vs Angkat Beban: Mana yang Lebih Efektif untuk Turun Berat Badan?

Banyak yang ngira cardio itu jalan ninja buat nurunin berat badan. Salah besar. Cardio itu adalah salah satu cara paling buruk buat nurunin berat badan, apalagi kalau nggak dibarengin sama pola makan dan latihan angkat beban.

Kalau tujuan kamu turun berat badan, yang harus kamu fokusin itu justru angkat beban. Kenapa?

  • Meningkatkan Metabolisme: Angkat beban = bikin massa otot. Dan makin banyak otot, makin banyak kalori yang kamu bakar, bahkan pas lagi tidur. Metabolisme kamu bakal ngegas, bukan cuma pas latihan tapi sepanjang hari.
  • Mencegah penyusutan otot: Ketika kamu latihan cardio terus-terusan ditambah dengan defisit kalori terus-terusan, maka otot kamu akan menyusut. Suatu hal yang kamu mau hindari, karena seperti yang kita ketahui, otot itu adalah tameng dari berbagai penyakit kronis. Kalau begini caranya, bisa-bisa fat mass kamu secara persentase total mass jadi lebih tinggi daripada massa otot.

Tapi bukan berarti cardio nggak penting ya. Cardio tetap krusial buat kesehatan jantung dan stamina. Nah, di sini nih yang harus hati-hati: banyak gym bro yang ogah nyentuh cardio karena takut GAINZ ototnya ilang. 

Memang ada benarnya. Cardio berlebihan bisa bikin otot kamu capek duluan, jadi pas angkat beban malah nggak maksimal.

Yah, balik lagi ke tujuan kamu. Bila kamu memang lebih menekankan overall health dan bukan sekedar bikin badan gede kayak bodybuilder, main cardio secukupnya malah bagus buat daya tahan tubuh dan recovery. Cukup 2 sesi seminggu, 20 menit setiap sesi di 20-30 menit dengan pace santai dimana kamu masih bisa ngobrol (70% of HR max). 

Dan kalau kamu atlet amatiran atau pengen naikin stamina harian, kamu bisa aja cobain masukin HIIT (High Intensity Interval Training) ke program latihan kamu. Tapi HIIT yang beneran itu biasanya bikin capek, dan mungkin bisa mengganggu latihan angkat beban kamu.

Tapi bila dilakukan dengan benar, HIIT bakal bantu ningkatin VO₂max dan work capacity, bikin jantung dan paru-paru kamu kerja lebih efisien dan siap tempur. Jangan HIIT asal-asalan ya, kita pernah bahas lengkap cara ningkatin VO2 max tanpa HIIT asal-asalan.

Dan, buat atlet endurance, angkat beban nggak bakal bikin kamu jadi lambat. Justru sebaliknya—bikin power naik, performa endurance makin kenceng, dan risiko cedera turun.

Intinya? Jangan jadi fanatik salah satu. Kombinasikan cardio dan angkat beban biar hasilnya nggak cuma bikin kamu kurus, tapi juga bikin jantung, otak, dan badan kamu sehat dan kuat.

Latihan Cardio untuk Pemula: Cara Latihan Cardio Secara Cerdas

Mulai pelan-pelan. Nggak perlu langsung ngegas. Ini panduan latihan cardio buat pemula yang serius pengen ningkatin cardio fitness mereka.

  • Coba mulai dengan 2 sesi per minggu, intensitas rendah, cuma 20–30 menit per sesi. Targetkan detak jantung sekitar 130 bpm atau 60–70% dari HR max.
  • Jangan buru-buru nambah intensitas latihan aerobik. Pantau detak jantung istirahat kamu (ukur pas bangun tidur) dan berapa keras kamu harus nge-pedal atau jalan buat ngejaga HR di angka 130.
  • Selama detak jantung istirahat kamu menurun atau kamu bisa jalan atau gowes lebih cepat dengan HR tetap di 130, itu artinya kondisi kamu membaik. Jangan buru-buru nambah durasi latihan kalau nggak perlu.
  • Kalau mau nambah volume, naikin pelan-pelan: tambah 10 menit latihan aerobic per minggu. Pantau adaptasi tubuh kamu. HR istirahat sebaiknya turun ke angka 50-an, dan kamu nggak lagi ngos-ngosan atau lambat pulih antar set latihan.

Kalau sudah konsisten dengan 3 sesi seminggu, masing-masing 40 menit, tapi merasa kondisi aerobik masih kurang:

  • Mulai masukin interval training secara konservatif. Coba 3–4 ronde interval 1 menit dengan jeda 2–3 menit antar ronde.
  • Pantau lagi progress-nya dan cuma tambah intensitas kalau memang perlu.

Contoh Latihan Cardio untuk Pemula yang Gampang dan Efektif

Buat pemula, nggak harus ribet kok. Ini beberapa contoh latihan cardio yang bisa kamu coba, baik di rumah, gym, atau outdoor:

  • Jalan Cepat: Cocok buat pemula. Jalan kaki dengan pace yang bikin napas sedikit naik, sekitar 30 menit.
  • Skipping/Lompat Tali: Simple tapi efektif. Bakar kalori sekaligus latih koordinasi.
  • Naik Tangga: Bisa di kantor atau rumah. Nggak cuma hemat waktu, juga bikin kaki dan jantung kamu kerja ekstra.
  • Bersepeda (outdoor/stationary bike): Variasi kecepatan biar nggak monoton. Tapi ingat, cuma ngelatih otot kaki.
  • Rowing: Latihan full-body yang mengajak punggung, kaki, dan tangan bekerja bersama.
  • Ski-Erg: Alat cardio ini juga melatih upper body dan core kamu.
  • Squat Jumps & Mountain Climbers
  • Burpees: Jujur aja, gerakan ini high impact dan kurang bagus buat kesehatan sendi kalau form dan kontrolnya nggak benar (dan kebanyakan orang form nya gak bener). Buat pemula, skip.
  • Renang: Low impact, tapi bikin semua otot bekerja. Cocok buat kamu yang mau latihan tanpa risiko cedera sendi.
  • Zumba/Dance Cardio: Bisa bikin cardio fun buat beberapa orang.

📌 Wajib Tau: Adaptasi dan manfaat kardio kayak peningkatan kapiler darah, enzim oksidasi, dan efisiensi pembakaran kamu cuma bakal terjadi di sel otot yang kamu latih. Jadi, latihan kayak stationary bike yang cuma ngelatih otot kaki doang ya manfaatnya terbatas di situ.

Pilih latihan yang bikin badan kamu kerja bareng biar adaptasinya lebih nyebar dan hasilnya lebih maksimal.

FAQ Seputar Latihan Aerobik

Apa itu latihan aerobik dan contohnya?

Latihan aerobik adalah latihan ritmis berdurasi sedang–panjang yang menggunakan oksigen sebagai sumber energi. Fungsinya untuk melatih kinerja jantung dan paru-paru. Contohnya: jalan cepat, lari santai, bersepeda.

Apakah latihan aerobik membakar lemak?

Ya, tapi tidak seefisien kombinasi angkat beban + defisit kalori. Latihan aerobik mendukung fat loss lewat peningkatan metabolisme dan efisiensi jantung.

Apakah harus latihan aerobik tiap hari?

Tergantung dari intensitas, tetapi biasanya nggak harus setiap hari. Cukup 2–4 kali/minggu tergantung tujuan, level fitness, frekuensi dan intensitas latihan.

Boleh digabung dengan latihan angkat beban?

Sangat boleh. Justru kombinasi ini paling optimal untuk performa dan komposisi tubuh. Latihan beban juga akan membantu mencegah cedera bagi atlet endurance. Latihan angkat beban yang eksplosif, dan latihan plyometric, dapat membantu meningkatkan stretch reflex seseorang yang dapat membuat mereka lari lebih cepat.

Aplikasi AI Coach Nutrisantara masih di dapur. Mau nyicipin duluan?

Masih dalam tahap uji coba. Daftar di sini kalau mau jadi yang pertama nyobain.