Mungkin sebelumnya Anda pernah mendengar atau melihat berbagai program juice cleanse atau juice detox yang dijual secara online. Mungkin Anda sendiri pernah mencobanya, atau mengenal seseorang yang melakukannya.
Janji terbesar program jus detoks adalah klaimnya yang konon dapat membersihkan tubuh dari racun dan menurunkan berat badan secara instan. Namun benarkah adanya jus detoks benar-benar baik untuk kesehatan?
Dalam artikel ini, kita membahas mitos seputar jus detoks, dari risiko kesehatan, efek samping, dan efek detoksifikasi tubuh.
Untuk itu, sebelumnya kita harus belajar sedikit soal proses detoksifikasi tubuh.
Apa Itu Jus Detoks?
Juice deto atau juice cleansing adalah program diet dimana seseorang hanya mengonsumsi jus buah dan sayuran selama beberapa hari—biasanya antara 1 hingga 5 hari. Selama menjalani program ini, biasanya tidak boleh ada konsumsi makanan padat sama sekali.
Program ini berbeda dengan pola makan yang memasukkan jus sebagai bagian dari diet seimbang. Dalam program juice cleanse, jus menggantikan semua makanan padat. Selain dalam bentuk jus, program detoks juga dapat berupa konsumsi teh herbal.
Klaim Manfaat Juice Cleanse
- Membersihkan tubuh dari racun: Jus dipercaya mengandung banyak vitamin, mineral, dan antioksidan yang bermanfaat bagi proses detoksifikasi.
- Memberikan pencernaan kita waktu istirahat: Sistem pencernaan kita bekerja secara lebih ringan karena hanya cairan yang harus diproses.
- Menurunkan berat badan secara instan: Banyak orang melaporkan penurunan berat badan setelah menjalani juice cleanse.
Banyak layanan katering yang kini menyediakan paket jus detoks dengan durasi tertentu seperti 1, 3, atau 5 hari.
Namun, benarkah klaim tersebut memiliki dasar ilmiah?
Sesungguhnya, klaim “detoksifikasi” tubuh tidak memiliki landasan ilmiah yang jelas.
Faktanya, klaim bahwa jus detoks dapat mempercepat pengeluaran racun dari tubuh tidak memiliki landasan ilmiah yang jelas. Berbagai ulasan ilmiah dan meta-analisis menyimpulkan bahwa tidak ada bukti kuat yang mendukung efektivitas juice cleanse dalam meningkatkan detoksifikasi tubuh.
Bahkan, beberapa studi (seperti Cline, 2015) menunjukkan bahwa program juice cleanse malah dapat membahayakan sistem detoksifikasi tubuh kita yang alami.
Memahami Proses Detoksifikasi Alami Tubuh
Setiap hari, tubuh kita terpapar toksin dari sumber eksternal maupun internal.
Racun Eksternal:
- Konsumsi alkohol
- Merokok
- Zat pengawet dalam makanan
- Pestisida
- Polusi udara
- Bahan kimia dalam produk rumah tangga.
- Bahan kimia dalam kosmetik dan produk skincare.
Bahkan, ada juga toksin yang baik untuk kesehatan kita bila dikonsumsi dalam jumlah kecil, seperti vitamin A, vitamin B, glucosinolate (sulfur yang bisa ditemukan di makanan seperti brokoli), dan fitokimia (sejenis antioksidan). Semua zat ini memiliki manfaat bila dikonsumsi dalam jumlah kecil, namun dapat menjadi racun dalam jumlah besar.
Racun Internal: Tubuh kita juga menghasilkan racun secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme. Racun ini bisa datang dari hasil pencernaan makanan hingga stress.
Organ-Organ yang Berperan dalam Detoksifikasi
Secara alami dan otomatis, tubuh kita sebenarnya sudah memiliki sistem detoksifikasi yang sangat efektif.
Berikut adalah organ tubuh kita yang bekerja sama untuk melakukan proses membersihkan tubuh dari racun.
- Hati: Memfilter dan memproses racun, baik yang berasal dari luar maupun yang dihasilkan tubuh.
- Ginjal: Mengeluarkan racun yang larut dalam air melalui urin.
- Kulit: Mengeluarkan racun melalui keringat.
- Sistem limfatik: Membantu membersihkan limbah metabolik.
- Sistem pernapasan: Mengeluarkan racun melalui karbon dioksida.
- Sistem pencernaan: Mengeluarkan racun dan sisa metabolisme melalui feses dengan bantuan mikrobiota usus yang sehat.
Bagaimana Cara Menjaga Sistem Detoksifikasi Kita?
Untuk memastikan sistem detoksifikasi tubuh kita berjalan secara optimal, tubuh kita membutuhkan berbagai asupan gizi dan nutrisi seperti asam amino (protein), serat, probiotik.
Hati kita (organ paling vital dalam proses detoksifikasi) membutuhkan asam amino seperti glycine, cysteine, dan glutamine untuk menjalankan tugasnya dengan baik.
Bakteri baik di sistem pencernaan kita juga membutuhkan asupan serat dan probiotik untuk membantu membersihkan toksin dari tubuh kita. Serat membantu mengikat dengan toksin, sedangkan probiotik membantu mencegah penyerapan toksin di usus kecil kita.
Sayangnya, program juice detox sangat minim protein, serat, dan probiotik, sehingga kurang mendukung proses detoksifikasi alami tubuh.
Mitos dan Fakta Seputar Jus Detoks
1. Mitos: Jus Detoks Membersihkan Racun dari Tubuh
Fakta: Tubuh kita sudah secara otomatis membersihkan racun melalui hati, ginjal, dan sistem pencernaan. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa jus detoks dapat mempercepat proses ini.
Hal terbaik yang bisa dilakukan untuk mendukung detoksifikasi adalah menjaga pola makan seimbang dengan cukup protein, serat, dan probiotik.
2. Mitos: Jus Detoks Efektif untuk Penurunan Berat Badan
Fakta: Jus detoks memang dapat menyebabkan penurunan berat badan cepat. Hanya saja, penurunan berat badan ini diakibatkan oleh hilangnya massa otot dan retensi air tubuh, dan bukan lemak.
Setelah program juice cleanse selesai, berat badan akan kembali ke semula. Efek yo-yo dieting seperti ini juga dapat memperlambat metabolisme dan membuat penurunan berat badan lebih sulit di masa depan.
Bahaya dan Efek Samping Jus Detoks
Kekurangan Nutrisi Esensial
Ketika Anda melakukan program juice cleansing, tubuh Anda tidak mendapatkan asupan protein, lemak, dan serat yang cukup. Efeknya, tubuh Anda tidak dapat berfungsi secara optimal.
Belum lagi, kekurangan serat akibat program jus detoks malahan bisa menyebabkan gangguan sistem pencernaan, dan merusak ekosistem bakteri usus kita yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan kulit kita.
Baca juga: Mengenal Mikrobiota Usus Tubuh Kita
Pengaruh Negatif pada Metabolisme
Diet dengan kalori restriktif yang sangat rendah justru dapat memperlambat metabolisme tubuh.
Ketika tubuh kita kelaparan secara terus menerus, tubuh kita akan memperlambat metabolisme kita sebagai mekanisme untuk bertahan hidup. Tubuh kita akan memperlambat basal metabolic rate kita agar kalori yang kita bakar jadi lebih sedikit.
Baca juga: Mengenal Basal Metabolic Rate
Peningkatan Gula Darah
Jus yang manis dan mengandung kandungan gula yang tinggi akan menyebabkan lonjakan gula darah, meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2. Hal ini membuat program jus detoks sangat berbahaya bagi pengidap diabetes tipe 2 atau gangguan resistensi insulin.
Gangguan Sistem Pencernaan
Seperti yang sudah kita singgung sebelumnya, kebanyakan jus tidak mengandung ampas. Justru ampas ini lah yang mengandung serat yang penting untuk sistem pencernaan dan mikrobiota usus kita. Akibatnya sembelit, atau bahkan diare.
Beban Berlebih pada Hati dan Ginjal
Konsumsi jus yang berlebihan justru dapat memberikan beban tambahan pada hati dan ginjal kita. Program juice cleanse sesungguhnya sangat berbahaya bagi individu yang memiliki riwayat gangguan hati dan ginjal.
Mengganggu Keseimbangan Elektrolit
Elektrolit adalah mineral bermuatan listrik (potassium, magnesium, sodium) yang membantu menjaga keseimbangan cairan luar dan dalam sel kita.
Asupan cairan (seperti air dan jus) yang terlalu banyak tanpa diimbangi dengan asupan elektrolit dapat menyebabkan hyponatremia yang dapat membuat Anda merasa lemas, letih, pusing, dan bahkan menyebabkan pingsan.
Mengapa Beberapa Orang Merasa Lebih Baik Setelah Jus Detoks?
Pengurangan Makanan Olahan
Banyak orang merasa lebih baik saat melakukan jus detoks karena mungkin mereka jadi berhenti mengonsumsi makanan ultra proses dan junk food lainnya.
Hal ini juga lah yang sebetulnya berkontribusi pada penurunan berat badan secara instan.
Efek Plasebo
Kadang-kadang, perasaan lebih baik itu bisa jadi hanya efek plasebo.
Untuk mempercepat proses detoksifikasi tubuh, kuncinya adalah pola makan seimbang, hidrasi cukup, olahraga teratur, dan tidur berkualitas.
Halo, nama gue Kim, salah satu pendiri Nutrisantara. Gue adalah certified nutrition coach (Precision Nutrition Level 1) dan sudah lulus ujian sertifikasi CSCS (Certified Strength and Conditioning Specialist) dari NSCA—salah satu sertifikasi exercise science paling ketat di dunia.
Sepanjang hidup gue, sebagai pecinta olahraga, gue aktif di berbagai cabor karena gue percaya ilmu harus diuji di lapangan. Gue mendalami combat sports sebagai pilar utama, sempat serius dengan olympic weightlifting, sambil tetap mencoba berbagai hal, meski skill pas-pasan, mulai dari surfing, tennis, hingga basket.
