PED (Performance Enhancing Drugs) adalah salah satu topik paling penuh mitos dan miskonsepsi di dunia fitness dan olahraga.
Ada yang yakin kalau suntik steroid langsung otomatis jadi kuat, atau sangat berbahaya. Padahal mekanismenya nggak sesederhana itu.
Artikel ini bakal jadi pengenalan dasar tentang PED. Bukan ajakan, hanya edukasi. Karena faktanya, PED udah lama jadi bagian dari dunia olahraga, dan sudah umum dipakai oleh atlet di tingkat elit, tapi juga sering bikin masalah kalau dipakai sembarangan.
Penting untuk diingat bahwa protokol medis akan jauh lebih efektif jika didukung oleh pondasi hormon alami yang kuat. Tanpa nutrisi dan manajemen stres yang tepat, penggunaan bahan sintetis sekalipun tidak akan memberikan hasil yang optimal
Apa Itu Performance Enhancing Drugs (PED)?
PED adalah segala macam zat yang dipakai untuk meningkatkan performa di atas batas alami. Bisa berupa hormon sintetis, obat medis yang dipakai off-label, atau suplemen legal yang dimanfaatkan dengan tujuan meningkatkan kekuatan, massa otot, daya tahan, atau fokus.
Jadi, apa dong bedanya dengan suplemen biasa?
Secara teknis, dengan definisi di atas, suplemen kayak creatine juga bisa masuk kategori PED. Bedanya, PED legal seperti creatine, whey protein, beta alanine, atau BCAA punya risiko kecil. Efek samping paling banter ya mual, kembung, atau diare ringan kalau overdosis.
Sementara itu, PED ilegal seperti steroid, EPO, atau SARMs punya risiko besar. Apalagi kalau dipakai tanpa ngerti cara cycling atau recovery-nya. Di level atlet elite, penggunaannya biasanya diatur ketat oleh tim medis profesional. Tapi kenyataannya di lapangan, banyak orang awam nekat melakukan cycling sendiri dengan hanya bermodalkan nasihat gym bro dan internet.
Kenapa Atlet (dan Orang Biasa) Menggunakan PED?

Di dunia kompetisi elite, peningkatan performa sekecil apapun bisa jadi penentu sejarah. Selisih 0,01 detik di garis finish bisa jadi pembeda antara medali emas dengan perak.
Dan seperti yang kita tahu, di negara-negara besar seperti Amerika, Tiongkok, atau Rusia, prestasi olahraga di panggung internasional bukan cuma soal sportivitas, tapi juga alat soft power.
Performa tim nasional di Olimpiade atau kejuaraan dunia bisa dipakai untuk mengerek citra negara, bahkan memengaruhi popularitas pemimpin politik di dalam negeri.
Dan nggak cuma di tingkat elite, di kalangan fitness enthusiast atau anak gym, penggunaan PED juga cukup umum.
Ada yang pakai karena penasaran ingin coba, ada yang merasa butuh dorongan ekstra buat ngejar target fisik, ada juga yang sekadar ingin prosesnya lebih cepat, entah itu buat cutting atau nambah massa otot.
Dari sisi psikologi dan sosial, faktor-faktor seperti tekanan performa, body image, atau sekadar FOMO juga bisa berperan.
Intinya, PED memang bisa memberikan efek nyata, tapi hasilnya tetap bergantung pada latihan, nutrisi, dan cara penggunaannya. Justru kalau dosis yang dipakai jauh di atas dosis medis, risiko efek sampingnya juga meningkat.
Jenis-Jenis PED yang Paling Umum
Hormon & Analognya
Anabolic Steroid
- Turunan testosteron.
- Efek: meningkatkan protein synthesis pada otot. Sehingga peningkatan adaptasi hipertrofi dan kekuatan otot jadi 2–3 kali lebih cepat dibanding baseline.
- Risiko: tekanan darah tinggi, kolesterol buruk, infertilitas, mood swings.
Seperti yang kamu tau, steroid adalah hormon alami yang ada di tubuh pria. Wanita juga punya, walaupun 20x lebih rendah daripada kadar testosteron pria.
Dalam konteks dunia fitness, hormon testosteron adalah hormon yang terlibat dalam muscle protein synthesis. Secara alami, kadar testosteron, baik pada pria dan wanita, akan meningkat setelah olahraga angkat beban/latihan resistensi berat yang menggunakan compound movement (seperti squat, deadlift).
Peningkatan testosteron sendiri sebetulnya tidak berarti muscle protein synthesis jadi meningkat juga ya. Testosteron yang berguna untuk otot hanyalah hormon testosterone yang bisa mengikat pada reseptor androgen pada sel otot kita. Dan reseptor testosteron di tubuh cenderung meningkat dengan latihan resistensi dan beban.
Prohormones
- Prekursor testosteron.
- Bukti: efek peningkatan performa minim, tapi bisa ganggu lipid & hormon.
Secara teori, prohormones bisa meningkatkan produksi kadar testosteron, tapi belum ada bukti yang kuat dan efeknya biasanya minim.
hCG (Human Chorionic Gonadotropin)
- Dipakai buat memulihkan fungsi testis setelah cycle steroid.
- Risiko: ketidakseimbangan hormon kalau asal pakai.
Human chorionic gonadotropin diekstrak dari plasenta wanita. Pada wanita, hCG digunakan untuk menekan nafsu makan, walau tidak ada landasan atau bukti yang kuat untuk efektivitasnya.
Untuk pria, hCG biasanya disuntik untuk meningkatkan produksi testosterone pada testis yang menurun di akhir cycle akibat penggunaan steroid.
Insulin
Insulin adalah hormon peptida yang secara alami diproduksi pankreas. Fungsinya penting banget: membantu tubuh menyerap glukosa (gula darah) dan asam amino tertentu, misalnya leucine, ke dalam sel otot.
- Di orang sehat, ini bikin otot dapat bahan bakar dan bahan baku untuk perbaikan jaringan.
- Di penderita diabetes, terjadi insensitivitas insulin—reseptor di sel nggak bisa “ngunci” dengan baik, sehingga glukosa dan asam amino sulit masuk ke sel. Akibatnya, gula darah tinggi tapi otot tetap kekurangan nutrisi.
Dalam konteks fitness, begini teorinya: setelah sesi angkat beban, tubuh masuk fase muscle protein breakdown. Kalau ada insulin (misalnya lewat konsumsi karbohidrat), glukosa lebih cepat diserap otot, sehingga breakdown ini bisa ditekan, dan pemulihan otot jadi lebih cepat.
Itulah kenapa ada orang yang pakai insulin sebagai PED—diharapkan efek anaboliknya bisa maksimal.
Risikonya nggak main-main. Dari hipoglikemia mendadak (gula darah drop drastis), sampai komplikasi serius seperti diabetes atau bahkan kematian.
Human Growth Hormone (HGH)
- Efek: tambah lean mass, turunin kadar lemak.
- Risiko: acromegaly (pembesaran tulang/organ), hipertensi, gangguan kardiovaskular, sampai risiko kanker.
HGH (Human Growth Hormone) adalah hormon protein yang secara alami diproduksi oleh kelenjar pituitari anterior.
HGH memiliki berbagai fungsi metabolik penting, mulai dari regulasi glukosa dan asam amino di darah, mengontrol oksidasi lemak.
Dalam konteks fitness, HGH adalah hormon penting untuk mengstimulasi pertumbuhan tulang dan otot.
HGH bisa meningkatkan muscle protein synthesis dan pertumbuhan jaringan keras maupun lunak. Menariknya, di dunia medis HGH juga dipakai untuk terapi anak yang punya defisiensi hormon pertumbuhan, bahkan bisa mempengaruhi tinggi badan dan komposisi tubuh mereka.
Sebelum tahun 1986, HGH cuma bisa diekstrak dari mayat manusia. Sekarang sudah diproduksi lewat teknologi recombinant, tapi tetap aja produksinya mahal. Nggak heran kalau di black market harganya selangit, dan sering jadi barang incaran.
Secara penelitian, bukti manfaat HGH untuk atlet masih terbatas. Alasannya bukan semata karena HGH nggak efektif, tapi karena sulit (dan tidak etis) melakukan riset dengan dosis tinggi seperti yang dipakai di dunia fitness atau kompetisi. Jadi data yang ada sering “setengah matang.”
Efek sampingnya juga nggak main-main. Dari acromegaly (wajah dan rahang membesar, tulang menebal, organ bengkak) sampai masalah kardiovaskular.
Kalau kamu pernah lihat aktor Hollywood yang tiba-tiba jadi buff dalam waktu singkat tapi bentuk rahangnya jadi aneh, besar kemungkinan itu efek samping HGH, bukan oplas gagal.
Erythropoietin (EPO)
- Merangsang produksi sel darah merah → endurance naik.
- Risiko: darah jadi kental → stroke, serangan jantung, kematian mendadak.
Erythropoietin (EPO) adalah hormon yang secara alami diproduksi oleh ginjal kita.
EPO merangsang sumsum tulang untuk bikin sel darah merah baru. Dengan lebih banyak sel darah merah, tubuh bisa membawa lebih banyak oksigen ke otot. Sehingga performa endurance meningkat drastis.
Nggak heran kalau EPO jadi doping favorit atlet endurance. Ini dia doping yang dipakai Lance Armstrong di Tour de France, yang akhirnya ketahuan menggunakan EPO secara sistematis bersama timnya.
Risikonya juga ngeri bos. Darah jadi terlalu kental, jantung harus kerja ekstra, dan risiko pembekuan darah melonjak. Efek samping terburuknya bisa stroke atau serangan jantung mendadak bahkan di usia muda.
β-Agonists (Clenbuterol, Ephedrine)
- Efek: fat loss, energi lebih tinggi.
- Risiko: aritmia, tremor, anxiety.
β-Agonists seperti clenbuterol dan ephedrine awalnya adalah obat medis (asma & bronkodilator). Di tubuh kita, β-Agonists berfungsi untuk meregulasi lipolysis (pemecahan lemak) dan thermogenesis (peningkatan pembakaran kalori yang mengakibatkan kenaikan suhu tubuh). β-Agonists mirip dengan adrenaline/epinephrine.
Zat ini dipakai karena efeknya bisa menurunkan kadar lemak tubuh dan meningkatkan massa otot. Ephedrine bahkan sering dikombinasikan dengan kafein untuk efek maksimal.
Masalahnya, efek stimulannya keras. Jantung bisa berdebar nggak karuan, tangan tremor, bahkan serangan jantung kalau dosisnya kelewatan. Itu sebabnya banyak federasi olahraga masukin clenbuterol dan ephedrine ke daftar doping terlarang.
β-Blockers
- Efek: turunkan detak jantung, stabilin tangan → dipakai di olahraga presisi (menembak, panahan).
- Risiko: turunkan kapasitas aerobik.
Kebalikan dari β-agonists, β-blockers justru “menenangkan” sistem saraf. Mereka menekan detak jantung dan mengurangi tremor. Makanya ini jadi obat pilihan atlet di cabang olahraga yang butuh presisi, kayak tembak-menembak atau panahan.
Tapi karena bikin tubuh terlalu “tenang,” ada risiko lain: kapasitas aerobik menurun, gampang pusing, bahkan bisa bikin pingsan kalau dipakai tanpa pengawasan medis.
Trenbolone
- Steroid super kuat.
- Efek: pertambahan massa otot cepat.
- Risiko: efek samping kardiovaskular & psikis serius.
Trenbolone awalnya bukan dibuat untuk manusia, tapi untuk hewan ternak, supaya sapi bisa cepat gemuk.
Karena efek anaboliknya sangat kuat, trenbolone kemudian disalahgunakan di dunia bodybuilding.
Di tubuh, trenbolone bekerja mirip dengan testosteron, tapi tren punya afinitas ke reseptor androgen yang jauh lebih tinggi.
Efeknya, pertumbuhan otot bisa sangat cepat, bahkan lebih cepat dari anabolic steroid biasa. Tapi efek sampingnya juga jauh lebih ekstrem. Banyak pengguna melaporkan masalah psikologis (tren rage), gangguan tidur, dan masalah jantung.
Karena itu, trenbolone dianggap salah satu steroid paling “hardcore” hasilnya kelihatan, tapi risikonya brutal.
Muscle Buffers
Muscle buffers adalah zat yang membantu otot “menetralisir” penumpukan asam (ion H⁺) dari lactic acid saat latihan intensitas tinggi. Kalau asam menumpuk, otot cepat capek (fatigue). Dengan buffer, otot bisa kerja lebih lama sebelum menyerah.
Arginine
- Klaim: tingkatkan nitric oxide sehingga aliran darah ke otot jadi lebih baik
- Fakta: nggak terbukti signifikan di atlet sehat.
HMB (β-Hydroxy-β-Methylbutyrate)
- Turunan dari asam amino leucine.
- Efek: kurangi breakdown otot, bantu recovery. Efeknya paling signifikan di lansia, namun efeknya tidak terlalu signifikan di dewasa sehat yang sering olahraga.
β-Alanine
- Efek: meningkatkan kadar carnosine di otot, yang berfungsi sebagai buffer ion H⁺.
- Hasil: efektif untuk latihan intensitas tinggi dengan durasi lebih dari 60 detik. Efek samping ringan: kesemutan (paresthesia).
Sodium Bicarbonate & Sodium Citrate
- Efek: bekerja sebagai buffer eksternal yang dapat menetralkan asam laktat di darah.
- Manfaat: bisa menunda rasa lelah saat sprint atau interval training.
- Risiko: gangguan pencernaan (mual, diare).
Creatine
- Salah satu suplemen paling terbukti.
- Efek: strength, power, lean mass naik. Bahkan creatine punya manfaat untuk otak juga loh.
- Aman banget di dosis wajar. Kita udah pernah bahas tuntas soal creatine nih, yuk coba dicek artikelnya 👉 Apa itu creatine, apa fungsinya, bagaimana cara konsumsinya?
L-Carnitine
- Efek utama: transportasi lemak ke mitokondria untuk dioksidasi jadi energi.
- Risiko: relatif aman, tapi manfaat di atlet sehat terbatas.
L-Carnitine adalah turunan dari asam amino lysine dan methionine. Fungsinya adalah untuk membantu “mengangkut” asam lemak masuk ke dalam mitokondria, supaya bisa dibakar jadi energi. Secara teori, makin tinggi kadar L-carnitine, makin banyak lemak yang dibakar.
Tapi kenyataannya, untuk atlet sehat, efeknya kecil banget. Ada faktor lain yang membatasi oksidasi lemak di otot.
Menariknya, banyak penelitian yang membuktikan efek positif dari L-Carnitine:
- Stefan et al., 2021: suplementasi L-carnitine bisa membantu recovery, menurunkan muscle damage setelah latihan resistensi pada populasi yang nggak sering olahraga.
- Kraemer et al., 2003: konsumsi 2 g per hari selama 3 minggu bisa meningkatkan upregulation pada reseptor IGF-1 di sel otot, artinya ada potensi efek anabolik tidak langsung.
Jadi walaupun bukan fat burner ajaib, L-carnitine punya sisi menarik di konteks pemulihan dan adaptasi latihan.
Stimulants
Ephedrine
Ephedrine adalah sejenis β-agonist, awalnya dipakai sebagai obat medis untuk bronchial asthma, bronkitis, dan alergi karena sifatnya sebagai bronkodilator.
Dalam konteks fitness, ephedrine dikenal sebagai fat burner karena efek thermogenic. Bisa meningkatkan basal metabolic rate (BMR) sehingga tubuh membakar lebih banyak kalori bahkan saat istirahat.
Menariknya, efek thermogenicnya akan jauh lebih signifikan kalau dikombinasikan dengan kafein (dikenal sebagai ECA stack: Ephedrine + Caffeine + Aspirin). Tanpa kafein, efek thermogenic ephedrine kurang kuat.
Karena sifatnya stimulan, efek sampingnya bisa muncul terutama di dosis tinggi: mulai dari mual, gelisah, insomnia, sampai risiko kardiovaskular (detak jantung nggak beraturan). Itu sebabnya ephedrine masuk daftar doping terlarang di banyak federasi olahraga.
Caffeine
Legal, efektif, sedap pula.
Dalam konteks olahraga, caffeine udah terbukti jadi salah satu ergogenik yang paling konsisten.
- Endurance: caffeine bisa meningkatkan oksidasi lemak dengan memobilisasi asam lemak bebas dari jaringan lemak maupun otot. Efeknya, tubuh lebih hemat pakai glikogen, jadi lebih nggak gampang capek.
- Latihan intensitas tinggi & singkat: caffeine juga bisa mempengaruhi excitation–contraction coupling. Intinya, bikin otot lebih responsif.
Bahkan studi klasik (Costill et al., 1978) nunjukin bahwa bersepeda di 80% VO₂max bisa bertahan lebih lama: dari 75 menit (plasebo) jadi 96 menit (dengan caffeine).
Dosis efektif biasanya di kisaran 3–9 mg/kg berat badan (sekitar 1,5–3,5 cangkir kopi buat orang 70 kg). Efeknya paling terasa di atlet terlatih, sementara di pemula kadang nggak terlalu signifikan.
Risiko dan Bahaya PED Kalau Dipakai Tanpa Supervisi
Di level elite, penggunaan PED biasanya berada di bawah pengawasan tim medis. Ada dokter, ada monitoring, ada strategi dosis. Tapi di dunia nyata, banyak orang awam yang mencoba sendiri dengan dosis ngawur. Nah, di sinilah risiko paling besar biasanya muncul.
Efek samping jangka pendek bisa parah, tapi yang lebih bahaya justru dampak jangka panjang. Dari sisi kardiovaskular, risiko serangan jantung dan stroke meningkat. Dari sisi hormonal, bisa muncul infertilitas, gangguan reproduksi, sampai perubahan permanen di fungsi endokrin.
Belum lagi sisi psikologis: agresi meningkat (“roid rage”), depresi, sampai potensi adiksi terhadap zat tersebut.
Regulasi Doping dan Tes Anti-Doping
Secara teori, sistem anti-doping udah ketat. Ada WADA, IOC, federasi olahraga internasional, sampai IADO di Indonesia. Aturannya jelas. Siapa pun yang ketahuan pakai PED di luar ketentuan medis bakal kena sanksi berat.
Tapi realitanya nggak sesederhana itu. Kalau seorang atlet tahu jadwal testing, mereka bisa mengatur cycle dengan cerdik supaya tetap lolos tes. Dokumenter Netflix Icarus bahkan membongkar bagaimana doping dilakukan secara sistematis di Olimpiade.
Jadi jangan terlalu naif berpikir bahwa olahraga elite itu selalu “bersih.” Faktanya, penggunaan PED di level ini cukup umum. Hanya saja dilakukan dengan strategi yang jauh lebih pintar dan terorganisir.
Masa Depan PED: Dari SARMs ke Gene Doping
Ke depan, bentuk PED makin canggih.
Salah satu contoh yang lagi naik daun adalah SARMs (Selective Androgen Receptor Modulators). Awalnya dikembangkan untuk pengobatan pasien dengan muscle wasting dan osteoporosis, SARMs dipasarkan sebagai alternatif steroid yang katanya lebih selektif.
Artinya, mereka dirancang untuk mengikat reseptor androgen di otot dan tulang tanpa terlalu banyak efek ke organ lain. Secara teori, ini bikin SARMs terdengar lebih aman, tapi faktanya risikonya tetap ada: dari penekanan testosteron alami, perubahan profil lipid, sampai potensi kerusakan hati.
Lebih jauh lagi, ada gene doping, teknologi masa depan yang memungkinkan performa atlet diatur langsung dari level genetik.
Intinya, area ini akan terus berkembang pesat seiring kemajuan sains. Dari hormon sintetis, ke biohacking, hingga modifikasi gen. Seru banget deh.
Ngomongin PED itu nggak hitam-putih. Ada manfaat, ada risiko, ada aturan, ada celah.
Di level elite, doping udah terbukti dipakai, tapi di level awam, yang nasihatnya cuma dari gym bros dan internet, jadi bahaya karena asal pakai. Yah seenggaknya, sekarang kamu jadi lebih paham soal PED.
Halo, nama gue Kim, salah satu pendiri Nutrisantara. Gue adalah certified nutrition coach (Precision Nutrition Level 1) dan sudah lulus ujian sertifikasi CSCS (Certified Strength and Conditioning Specialist) dari NSCA—salah satu sertifikasi exercise science paling ketat di dunia.
Sepanjang hidup gue, sebagai pecinta olahraga, gue aktif di berbagai cabor karena gue percaya ilmu harus diuji di lapangan. Gue mendalami combat sports sebagai pilar utama, sempat serius dengan olympic weightlifting, sambil tetap mencoba berbagai hal, meski skill pas-pasan, mulai dari surfing, tennis, hingga basket.
