Cara Mudah Membaca Informasi Nilai Gizi

Mar 25, 2025

Kemampuan membaca informasi nilai gizi pada kemasan makanan merupakan salah satu skill penting di era modern, khususnya bagi kamu yang ingin menerapkan gaya hidup sehat.

Dengan memahami label nutrisi kamu bisa mengatur asupan kalori maupun gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) secara lebih cerdas.

Sayangnya, keterampilan ini sering diabaikan oleh banyak orang. Padahal, cara membaca informasi nilai gizi tidak terlalu sulit dan bisa dipelajari dengan cepat.

Selain itu, mengingat di dunia modern ini sudah hampir tidak mungkin kita sepenuhnya menghindari makanan ultra proses, pemahaman yang benar dapat melindungi kamu dari asupan berlebihan lemak jenuh, gula tambahan, sodium, dan zat-zat aditif lain yang kurang baik bagi kesehatan.

Dalam artikel ini, kamu akan mempelajari cara membaca informasi nilai gizi dengan mudah, mulai dari memahami takaran saji, kalori, hingga angka kecukupan gizi (%AKG). Yuk simak, biar nggak ketipu lagi.

Apakah Informasi Nilai Gizi Bisa Dipercaya?

Informasi nilai gizi pada kemasan memang bermanfaat, tapi tidak selalu 100% akurat. Setidaknya FDA (Food and Drug Administration) memberikan toleransi sebesar 20% untuk informasi pada label. 

Artinya, kalau kemasan bilang ada 100 kalori, angka sebenarnya bisa antara 80 hingga 120 kalori. Meski demikian, informasi ini tetap jadi panduan berharga buat memilih makanan yang lebih baik.

Mengapa Penting Membaca Informasi Kalori dan Nilai Gizi?

Dengan membaca label nutrisi, kamu bisa:

  • Mengatur berat badan dengan mengontrol asupan kalori.
  • Menghindari penyakit kronis dengan membatasi lemak trans, gula tambahan, dan sodium.
  • Memastikan asupan protein cukup untuk pembentukan dan pemulihan otot.

Cara Membaca Informasi Nilai Gizi

Berikut adalah beberapa komponen utama yang bisa kamu temukan di setiap label nutrisi.

1. Takaran Saji (Serving Size)

Takaran saji adalah jumlah porsi standar yang biasanya dikonsumsi oleh satu orang, bukan rekomendasi berapa banyak yang harus kamu makan.

Angka ini penting karena semua perhitungan kalori dan nutrisi di label—seperti protein, lemak, karbohidrat—dihitung per takaran saji.

  • Jika satu kemasan berisi lebih dari 1 porsi (misalnya 3 porsi), artinya kamu harus mengalikan semua angka di tabel dengan 3 jika kamu mengonsumsi seluruh kemasan.
  • Takaran saji sering dinyatakan dalam gram (g), mililiter (ml), atau kadang potongan (slice, pieces, dll.).
Sumber: Indomarkt.com

Contoh: Jika takaran saji biskuit adalah 40 g, sedangkan kemasan biskuit 120 g, maka 1 kemasan mengandung 3 takaran saji. Bila satu takaran saji = 180 kkal, maka menghabiskan seluruh kemasan berarti mengonsumsi 180 kkal x 3 = 540 kkal total.

2. Kalori (Calories)

Kalori mencerminkan total energi yang diperoleh dari tiap porsi. Biasanya dinyatakan dalam kkal (kilokalori).

Kebutuhan kalori rata-rata orang dewasa umumnya sekitar 2.000 kkal/hari, meskipun ini dapat bervariasi (misalnya 1.800–2.200 kkal) tergantung usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas.

Jika kamu sedang menurunkan berat badan, penting untuk memperhatikan jumlah kalori per sajian sehingga asupan total tidak melebihi kebutuhan harian. Gunakan kalkulator TDEE kami untuk mengecek kebutuhan kalori kamu setiap harinya.

3. %AKG atau Angka Kecukupan Gizi (%DV – Daily Value)

Angka Kecukupan Gizi (AKG) mengindikasikan persentase kontribusi nutrisi tertentu terhadap kebutuhan harian pada diet 2.000 kkal. Terkadang disebut juga %DV (Daily Value).

  • 5% atau lebih rendah biasanya dianggap rendah; 20% atau lebih dianggap tinggi.
  • Semakin tinggi %AKG pada lemak jenuh, gula tambahan, atau sodium, semakin cepat porsi tersebut “menghabiskan” jatah harianmu.

Contohnya, jika kandungan lemak jenuh menampilkan 10% AKG per porsi, mengonsumsi dua porsi berarti kamu sudah mencapai 20% batas rekomendasi asupan harian lemak jenuh.

4. Komposisi Bahan (Ingredients)

Produk dengan lebih dari satu bahan wajib mencantumkan daftar komposisi di kemasan. Urutan bahan dimulai dari yang kandungannya terbanyak hingga yang paling sedikit.

  • Jika gula tertera di urutan pertama atau kedua, artinya produk tersebut mengandung gula dalam jumlah besar.
  • Waspadai beragam nama “kamuflase” gula seperti sukrosa, fruktosa, dekstrosa, maltodekstrin, dan lain-lain.

Mengetahui komposisi ini memudahkanmu untuk menghindari produk dengan kandungan gula, trans fat, dan sodium yang berlebih.

Hal Lainnya yang Patut diperhatikan di Label Gizi Makanan

Selain memperhatikan jumlah kalori, banyak kandungan nutrisi lainnya yang harus kita perhatikan, yaitu:

1. Lemak (Total, Lemak Jenuh, Lemak Trans)

  • Lemak Total: Jumlah total lemak dalam makanan, baik lemak sehat maupun yang tidak.
  • Lemak Jenuh & Lemak Trans: Hindari konsumsi berlebihan karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Lemak trans, khususnya, sangat berbahaya dan sebaiknya dihindari.

Baca juga: Kolesterol HDL vs Kolesterol LDL Dalam Tubuh

2. Sodium

Sodium atau garam dapat menyebabkan tekanan darah tinggi jika dikonsumsi berlebihan. Ada baiknya kamu membatasi asupan sodium per hari sekitar 2.300 mg atau sesuai rekomendasi dokter.

3. Gula tambahan

Menurut standar World Health Organization (WHO), konsumsi gula tambahan sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 10% dari total kalori harian. Artinya, untuk seseorang dengan calorie maintenance 2.000 kcal, maka gula tambahan tidak boleh melebihi 200 kcal = 50 gram gula tambahan.

Gula tambahan (bukan gula alami seperti dari buah) dapat menyebabkan peningkatan berat badan, risiko diabetes, penyakit jantung, penyakit metabolik, dan penyakit kronis lainnya.

Waspadai produk low fat atau rendah lemak yang justru tinggi gula untuk menjaga rasa tetap enak.

Baca juga: Benarkah Karbohidrat Bikin Gendut?

4. Protein

Protein penting untuk pembentukan dan pemulihan otot. 

Kalau tujuan kamu adalah untuk hipertrofi atau pembentukan otot, maka penting untuk memastikan kamu memenuhi kebutuhan protein kamu setiap harinya (sekitar 1,8 – 2,2g protein per kg berat badan).

Tips Lainnya untuk Membaca Label Gizi

Berikut tips lanjutan dan beberapa kesalahan umum yang harus kamu hindari:

  • Jangan terlalu terpatok dengan kalori, perhatikan juga kandungan nutrisi lainnya. Jangan lupa untuk memperhatikan lemak jenuh, lemak trans, added sugar/gula tambahan, sodium.
  • Jangan ketipu sama “rendah lemak” atau “fat free”. “Biasanya produk “rendah lemak” diberikan gula tambahan lagi supaya rasanya tetap enak. Maka bila kamu perhatikan, banyak produk lemak yang kandungan gula tambahannyanya banyak. 
  • Organik tidak selalu superior. Produk makanan dengan label “organik” hanyalah menunjukan bahwa produk tersebut tidak menggunakan bahan kimia seperti pestisida. Kandungan nutrisinya sebetulnya sama saja dengan yang non-organik. 
  • “Gluten free” tidak berarti lebih sehat. Kecuali kamu telah didiagnosa oleh dokter kamu bahwa kamu mengidap penyakit celiac, tidak ada masalah sama sekali untuk kamu makan gluten. Gluten free itu tidak berarti lebih sehat.

Pertanyaan Umum Seputar Label Nutrisi

Apa Itu %AKG dan Bagaimana Menggunakannya?

 %AKG adalah persentase kebutuhan nutrisi harianmu dari satu porsi makanan. Contoh: jika tertulis 10% untuk sodium, berarti memenuhi 10% kebutuhan sodium harianmu.

Apakah Label “Rendah Lemak” Berarti Rendah Kalori?

Belum tentu. Banyak produk rendah lemak justru ditambahkan gula berlebih sehingga kalorinya tetap tinggi. Justru untuk produk rendah lemak, kamu harus lebih teliti mengecek total kalori dan gula tambahan.

Bagaimana Cara Menghitung Kalori Total?

Kalikan jumlah kalori per takaran saji dengan jumlah porsi yang dikonsumsi. Misalnya, 180 kkal x 3 porsi = 540 kkal.

Sekarang kamu sudah siap jadi konsumen yang lebih cerdas! Mulai sekarang, cek selalu informasi nilai gizi waktu belanja, ya. 

Aplikasi AI Coach Nutrisantara masih di dapur. Mau nyicipin duluan?

Masih dalam tahap uji coba. Daftar di sini kalau mau jadi yang pertama nyobain.